Monday, March 27, 2006

Poligami

Saya ini penggemar pilem, selalu melihat trailer pilem terbaru di Singapore maupun di dunia sekarang ini. Ntah kenapa dari dulu selalu tergila-gila ama yang namanya pilem. Meski saya ga apal nama bintang pilem semua dan pemenang2 oscar, tapi bisa dibilang saya lumayan up to date. Dulu sewaktu di Indo, saya suka banget ama yang namanya Nomat-nonton hemat hari Senin. Pasti saya selalu yang ngajakin anak2 nonton bareng di mall.

Di Singapore saya juga suka nonton, meski ga sesering di Indo soalnya lebih mahal di sini. Saya lebih memilih membeli vcd nya karena harganya toh ga jauh beda dengan tiket nonton dan bisa diulang2 nontonnya, lalu kalo ga suka, vcdnya bisa dijual lagi meski dengan harga lebih murah.

Lalu kenapa judul postingan saya adalah poligami. Begini, saya juga sering mengunjungi website studio 21 Indonesia http://www.21cineplex.com/main/ utk mengetahui pilem Indo apa sih yang lagi beredar sekarang. Kita tau, sejak AADC yang terkenal itu, pilem Indonesia jadi semakin marak dan banyak diproduksi. Dari pilem horor, pilem remaja, sampai pilem drama. Nah sewaktu hari ini saya meng-klik website ini, ada sebuah pilem Indo baru yang berjudul Berbagi Suami http://www.berbagisuami.com mari saya copy-kan sinopsis cerita ini.

Tiga perempuan yang berasal dari tiga kelas sosial, ekonomi dan suku yang berbeda membuka tabir tentang kehidupan poligami mereka. Perempuan-perempuan ini mengalami kondisi yang mirip satu sama lain, tetapi dengan latar belakang pribadi dan karakter yang berbeda.

Salma (Jajang C Noer) adalah seorang dokter ahli kandungan yang. Di tengah kehidupannya yang mapan, ia harus berjuang mempertahankan keutuhan rumah tangganya, walaupun Pak Haji (El Manik), suaminya telah menikahi perempuan yang lebih muda (Nungky Kusumastuti). Nadim (Wingky Wiryawan) anak semata wayang Salma menjadi alasan Salma untuk menjalani kehidupan poligaminya. Walaupun akhirnya Nadim justru tumbuh menjadi anak yang menentang poligami.

Siti (Shanty) adalah seorang gadis Jawa, yang bercita-cita untuk memperbaiki kehidupannya di Jakarta. Tinggal di rumah sempit Pak Lik-nya (Lukman Sardi), bersama dua istrinya (Ria Irawan dan Rieke Dyah Pitaloka), membuat Siti terbiasa dengan kehidupan poligami di rumah tangga pamannya ini. Namun Siti tidak pernah menyangka bahwa pamannya menaruh hati terhadap dirinya dan berniat menikahi Siti sebagai istri ketiga. Hubungan Siti dengan kedua istri pamannya justru semakin akrab setelah ia menjadi istri ketiga dan ini membuat situasi rumah tangga mereka unik.

Ming (Dominique) seorang perempuan muda keturunan Tionghoa yang terkenal sebagai “kembang” di restoran bebek panggang tempatnya bekerja. Koh Abun (Tio Pakusadewo), koki yang juga pemilik restoran, tak dapat menyembunyikan keinginannya untuk mengawini Ming. Bahkan istrinya yang galak, Cik Linda (Ira Maya Sopha) pun tak mampu manghalanginya. Ming menerima pinangan Koh Abun, yang sebenarnya lebih pantas menjadi bapaknya, karena merasa ‘aman’. Ketika Firman (Reuben Elishama), bekas pacar Ming yang telah menjadi sutradara film menawarkan peran utama di filmnya, Ming mulai membutuhkan kebebasan dan menyadari potensinya.

Ruang kehidupan Salma, Siti dan Ming berbeda dan mereka tak saling mengenal satu sama lain. Namun, mereka terkadang bertemu diruang publik Jakarta yang padat, tanpa menyadari bahwa mereka mengalami masalah kehidupan yang hampir sama.


Saya ga cuman mau mengkritisi pilem ini, tapi juga tentang poligami yang menurut saya itu adalah tindakan pelecehan terhadap kaum wanita. Saya tau kenapa pilem ini dibuat, meski hanya kira2 semata dan mendapatkannya dari seorang teman. Kita tau ayam goreng wong Solo di Jakarta, dan kita tau bahwa pemiliknya yaitu si Wong Solo sendiri memiliki istri dari 1 orang alias poligami. Kemudian, salah seorang pejabat tinggi Indonesia (saya tak usah menyebut siapa orangnya) juga penganut poligami dan dia bangga. Bahkan dia mendorong semua orang untuk berpoligami dengan alasan untuk membantu wanita2 yang membutuhkan perlindungan. Entah apa yang ada dalam pikirannya, saya sangat tak setuju dengan hal ini. Bahkan yang mengagetkan adalah salah satu istrinya itu adalah orang berpendidikan yang cukup tinggi (kalau tidak sarjana S1, berarti master) mendukung suaminya dan bahkan mencarikan istri ke-sekiannya. Sungguh aneh.

Jelas saya sangat tidak suka dan tidak setuju sama yang namanya poligami. Menurut saya ini cuman sebuah alasan2 semata bagi pria-pria yang ingin menikmati yang namanya (maap) 'hubungan intim' dengan legal. Biar bisa dibilang mereka tidak melakukannya di luar nikah, tapi menurut saya ini tidak ada bedanya. Dan kenapa wanita-wanita ini justru merasa senang dipologamikan, karena mereka merasa dilindungi dan aman. Kurangnya pendidikan bagi kaum wanita dan merasa diri memang rendah dan ga bisa berbuat apa-apa tanpa kaum pria-lah yang menyebabkan hal ini. Wahai kaum wanita Indonesia, kita ini wanita-wanita perkasa yang bisa berdiri sendiri, tidak usah takut untuk maju. Untuk apa Kartini susah payah memperjuangkan pendidikan bagi kaum wanita, kalo sekarang nyatanya kita masih tidak berpendidikan dan bisa dinjak-injak semaunya.


Powered By Qumana

No comments: