Tuesday, April 18, 2006

Semangat dong Jek

Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya mengalami kemalasan yang memuncak pas belajar buat exam hari ini (bagi yang membaca postingan sebelumnya). Dan saya stress dan sebal dengan kemalasan itu, tapi saya ga bisa berbuat apa2. Saya dikalahkan oleh rasa malas yang memuncak.

Kembalikan jeko yang dulu (maksudnya jeko pas semester 1), karena itu adalah saat2 terkiasu dan membanggakan dalam hidup. Mengikuti nasehat seorang kakak, mengikuti jumlah AU yang kita punya, kita belajar 2 kali lipat, jadi misalnya pelajaran A punya bobot 3AU, berarti saya harus menyisakan waktu belajar sebanyak 6 jam. Betapa bangganya saya, saya selalu membaca textbook untuk semua mata pelajaran, membaca lecture note sesudah diterangkan, mengerjakan semua tutorial, belajar seminggu in advance untuk sebuah quiz, karena moto saya, belajar untuk quiz=belajar untuk exam, jadi musti bener2 menguasai bahan yang akan dikuiskan.


Kemudian belajar benar2 konsentrasi menghapal dan komat kamit di NIE, abis exam langsung balik belajar lagi (betapa kiasunya saya). Ini semua karena saya ingin mendapat straight A untuk mengangkat rata-rata saya sehingga bisa mendapat 2nd upper dan diterima SMA.

Namun semua daya upaya dan tenaga sia-sia. Dalam hidup saya akhirnya saya punya sebuah impian, tapi sayangnya semuanya itu gagal, hiks! Jadilah sekarang saya terlunta-terlunta, mencari drive lainnya untuk bisa bertahan belajar demi exam, saya tau pasti nanti bakal nyesel pas uda keluar result, kenapa waktu itu ga belajar lebih keras, karena soalnya saya tau mudah, cuman saya malas menghapal. Tapi mau bagaimana lagi, sepertinya tidak berdaya tubuh, otak dan pikiran ini. Sangat malas.

Lalu hari ini membaca sebuah blog tentang seorang anak yang berasal dari broken family sampai dia berakhir mendapat beasiswa di Harvard.

Dia adalah produk dari keluarga gagal dan berantakan. Bapanya adalah seorang penjudi kelas berat yang juga seorang drunken master, sedangkan ibunya juga tidak mau kalah dengan menjadi seorang drug-holic, bahkan terinfeksi penyakit mematikan, AIDS, karena penggunaan jarum suntik yang tidak steril. Bisa bayangkan bagaimana pengaruh tingkah laku pasangan ini kepada anak mereka.

Di kala si anak membutuhkan kasih sayang, apa yang dia dapat? Bukan ciuman dan pelukan hangat, melainkan sumpah serapah yang disertai pukulan. Manakala sebagian anak seusia dia menikmati malam dengan berselimutkan cinta, dia harus meringkuk di bawah kolong meja hanya sekedar menghindarkan diri dari menjadi sasaran kemurkaan orangtua. Ketika teman-temannya melewatkan waktu dengan penuh canda dan keharmonisan dalam sebuah wadah yang dinamakan keluarga, dia terpaksa menelan pil pahit melihat kedua orang tuanya dihinggapi roh kemarahan hingga terjadilah yang namanya pertengkaran.

Alhasil dia berkembang menjadi anak yang pendiam sekaligus pemalu. Di sekolah tidak ada satupun yang bersedia menjadi temannya, malah dia selalu menjadi sasaran ejekan karena perilaku orangtuanya. Dia adalah seorang yang sangat kesepian. Beruntung ada seorang anak yang tinggal tidak jauh dari rumahnya bersedia menjadi temannya. Dan di sanalah dia pernah merasa hidup tenang, dan merasakan arti dari kasih sayang.

Umur 8 tahun, dia harus berhenti dari sekolah karena tidak ada biaya. Bahkan dia harus bekerja sebagai pembungkus makanan untuk membiayai hidupnya dan keluarganya. Hhhh ... tragis ...

Menginjak usia 15 dia minggat dari rumah dan berkumpul dengan rekan senasib menjadi homeless [kalo di-Indonesiakan kira-kira menjadi gelandangan aka tunawisma]. Diceritakan saat itu dia merasa tidak punya lagi bayangan akan masa depan, dia merasa hidupnya sudah tidak ada gunanya lagi.

Turning point dalam hidupnya adalah saat ibunya menyusul pass away saat berusia 16 tahun. Dengan hati hancur, dia mengunjungi makam ibunya. Di sana dia merenung, merefleksi, dan seperti penuturannya disitulah dia menemukan apa yang dinamakan Chutzpah. Dia mendapat pencerahan bahwa kehidupan kedua orang tuanya adalah berakhir dengan sia-sia. Timbul pertanyaan menantang baginya: apakah dia juga akan mengakhiri hidupnya seperti mereka, atau berubah saat itu juga.

Dia bergumul, bergulat, dan bertarung dengan dirinya. Dan ... dia memilih yang ke-2, yaitu berubah. Sejak itu, dia tinggalkan kehidupannya sebagai gelandangan, mulai bekerja untuk mencari biaya hidup, serta mulai menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung. Salah satu cita-citanya adalah melanjutkan sekolah lagi. Secara perlahan dia kumpulkan biaya seraya belajar secara outodidak untuk mengejar ketertinggalannya.

Saat biaya yang diperlukan cukup, dia pun mendaftarkan diri untuk sekolah lagi. Tidak tanggung-tanggung, dia ambil 2 sekolah sekaligus. Pagi ke sekolah A, sorenya bekerja, dan malamnya ke sekolah B. Semua tempat, di kereta api, stasiun, tempat kerja, pokoknya setiap ada kesempatan dimanfaatkannya untuk belajar. Hasilnya dia bisa menyelesaikan sekolahnya hanya dalam waktu 2 tahun dari waktu normal 4 tahun.

Dan yang paling membanggakannya, Liz Murray, mendaftarkan diri untuk menerima beasiswa di Harvard University ... dan DITERIMA. Luar biasa ...

Itu ada VCDnya katanya, judulnya Homeless to Harvard, keren ya. Semoga saya bisa kayak gitu, hiks kerennya. Tapi yah jadi sekarang balik lagi, semua yang gua lakukan itu harus punya dasar yang bener, semuanya buat Tuhan. Semoga gua bisa tetap fokus dan melihat ke arah Dia, karena ke-ego-sentrisan diri sendiri sangat sering muncul.

No comments: